2013

Banyak yang bsa diungkapkan sebenarnya untuk mewakili apa yang dirasakan selama setahun ini, 2013. Terlalu banyak hal yang memang bisa diceritakan. Segala kebahagiaan dan sukacita, kesedihan dan dukacita, kepenuhan dan kekosongan. Semuanya menyatu dalam kenang, 2013. Terima kasih atas segala penyertaan-Mu, terima kasih atas segala pembelajaran dalam hidup yang sudah bisa kudapatkan. Terima kasih atas semua berkat-Mu. Terima kasih atas setiap masa pengujian yang bisa dicicipi dalam hidupku. Setiap proses yang berjalan dalam hidup, setiap masa dan kesempatan untuk bernafas.

Tawa bahagia yang telah lalu, tetesan air mata yang tak jarang berlinang perlahan. Hal-hal yang mengajarkan diriku untuk menjadi dewasa. Sungut mengiringi setiap susah dan duka. Tawa bahagia yang seringkali menutupi syukur.

Ajarku dalam setiap bayangan cita-cita nanti untuk mengucap syukur.

Terima kasih atas semua kerabat dan sahabat, terima kasih atas rusuh dan musuh.

Advertisements

Usai

Kau yang terlena mimpi, kau yang hanyut oleh asa. Begitu lagi malam ini. Suaramu di telepon memburu nadi. Nafasmu tersengal kenangan. Tak berirama lagi, tak semerdu dulu. Rasa menjadi tawar, menggerus nilai dan waktu masih terus berputar. Yah, kita tertinggal jauh dibelakang harap.

Harapanmu masih besar, namun kita timpang dalam rasa. Tak semenggebu dulu, buihnya hilang dipupus angin dan air itu kemudian teduh kembali. Tak perlu membodohi diri bila kau masih terikat kenang. Karena kenangan bukanlah hutang yang harus kau bayar, karena perasaanmu sudah tiba di tempat seharusnya ia bersandar. Di butiran pasir-pasir hidup dan cerita kita, jejak-jejak kakimu masih tertanda disana. Ada jejak kita melangkah bersama dan kemudian terhalang karang. Jejak mu masih disana, namun jejak ku terbasuh laut.

Biarkan aku berenang ke laut lepas, dan susurilah pantaimu. Jika nanti aku kembali karena tak kuat lagi mungkin di pantai itu pula ku sandarkan ragaku, atau mungkin aku melabuhkan diri di teluk jauh. Bila ku tak mampu berenang lagi, maka akan ku karamkan diriku di samudera hidup. Tak perlu kau basahi dirimu dalam lautan luas, tak usah kau buat rakit dan perahu untuk menghampiriku. Biarkan ombak dan angin mengantarkan hidup dan ragaku kemanapun mereka mau.

Aku tak hanyut oleh arus laut, bahkan aku berenang menantangnya. Walau aku tau ku tak kan mungkin selamanya bertahan di antara ombak-ombak dan arus yang beradu disana. Bila kau tak mampu bersama ku diantara buih-buih itu, susuri saja pesisirnya. Hanya susuri saja pantai ini. Temukan jalanmu, atau buatlah istana harap mu seindah mungkin disini. Tapi ingatlah bahwa ombak pasang tak pernah berjanji membiarkan istanamu tetap berdiri megah disana. Sekali waktu ia kan datang menyapu semuanya. Jejakmu, jejakku, istanamu, dan cerita ini.

Pergilah susuri pantai ini. Mentari yang terbenam tetap kan merekah keemasan menyinarimu. Deburan ombak tetap kan menabuh semangatmu. Hanya saja ku tak akan ada disana dan menjejak pasir lagi bersamamu. Dari sana, dari luasnya laut aku kan beradu dengan arus dan ombak. Akan kupasrahkan rasa ini nanti bila ku tak sanggup lagi.

Salatiga, 2013

Menggugat Kenangan

Malam ini aku menggugat kenangan

Terkapar di lantai sajak-sajak bodoh yang pernah kuukir untuk dia,

Dia yang pernah kau benci, terbuka di lembaran akhir tulisan masa lampau

Dia yang pernah kucinta dan kemudian namanya mati terbunuh diujung pena

 

Kau berhasil,

obsesi dan keinginanmu menaklukan kenangan tentang dia

Sekian lama kisahnya mati di bagian terakhir buku kenangan

Dia sempat menjadi labuhan cinta dan obsesiku, kemudian karam

 

Malam ini aku menggugat kenangan

Banyak kata kutulis untukmu hanya untuk menggugat kenangan

Kemudian menggantung tak jelas

 

Yah, malam ini aku hanya ingin menggugat kenangan.

Hanya itu.

Salatiga, 22 Mei 2013