Masih Tetap

Sumpahi aku dengan serapahmu

Siapa tau aku jadi sampah.

Sebentar lagi kau sapu ketika fajar datang mengetuk pintu

Bukankah begitu caramu membuatku lemah.

 

Kau tau manisnya gula ketika bibir mengecap

Silahkan kecap dan kemudian nilai.

Palu telah diketuk, garis nasib telah diucap

Kita kembali ke titik mulai.

 

Sampai ditengah-tengah kau pun terisak

Setengah melirik dan menyesal kau mendayu.

Dengan pilihan sendiri kau terdesak

Kan kau kenang wajahku disapu bayu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s