Sederhana

Jangan kau tanya mengapa, karena aku pun tak tahu.
Mirip sebuah lagu jadul. Tak pernah aku berkata tak mencintaimu. Hanya waktu selalu menjadi musuh. Hidupku tak sederhana. Hidupmu tak sederhana. Namun mimpi kita sederhana. Hanya aku sajalah yang membuat itu menjadi tak sederhana.
Sepenggal kalimat tadi pagi kutuliskan di laptopku ketika bangun.
“Sederhana itu tak menjadi sederhana jika kita meminta dengan banyak pengecualian. Sederhana itu hanya butuh ihklas.”
Sekonyong-konyong kesederhanaan itu berubah menjadi monster. Sakit, derita, dan dendam campur baur. Ku tak paham sakitmu, kau tak paham bebanku. Bukankah kita imbang?
Jika demikian, sederhana kah kita? Sesederhana itukah mimpi kita?
Sekarang sakitmu tampak, bebanku terlihat. Bukankah kita imbang lagi?
Masih berkutat dengan pertanyaan yang tadi. Sederhanakah kita? Atau kita memang tak pernah bermimpi sesederhana itu?
Pada akhirnya kita mengerti bahwa sederhana itu tak kan pernah terlihat, sederhana itu tak kan pernah tampak.
……
(Atau jangan-jangan kita yang tak paham apa itu sederhana?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s