Dikeroyok Masa Lalu dan Masa Depan

Salatiga hujan lagi. Tetesannya perlahan kemudian bergemuruh, berlomba membunyikan genteng di kafetaria kampusku. Deru bunyinya keras, ditimpa angin menderu. Badai.

Kafe makin ramai, umat manusia berdempetan didalamnya. Mencari secuil kehangatan di kursi kayu panjang berlabur cat. Aku duduk bersisian dengan sahabat-sahabatku yang tampaknya tak rela melepas ku berjalan sendirian. Mereka mengerti kejadian semalam yang kuhadapi, mataku kosong kata mereka. Mungkin saja itu gambaran fisik semata, tapi apa mereka tahu kosongnya hati? Pengalaman setiap orang bukankah berbeda? Dari pengalaman itu persepsi pun berbeda. Terlalu teoritis memang, tapi bukankah kita dididik sebagai manusia teori sejak kecil.

Imaji wajah dan tangismu terpampang di benakku. Tak ingin larut tapi ku tak bisa lari, entah bagaimana cara menghindar jika opsi semata wayang hanya berhadapan langsung dengan duka? Kusimpan kembali laraku di balik senyum palsu ketika canda terujar di meja ini.

Menatap tetesan hujan yang mulai turun perlahan dengan butiran-butirannya yang malah makin membesar. Memutar otak sekedar menghindari mereka. Bukan kutak butuh penguatan komunal hanya sejenak waktu sendiri mungkin cukup melegakan.

Kupinjam payung dari sahabatku. Sekali lagi memori gema suaramu terngiang saat kau ungkapkan perbedaan visi kita. Tuntutku hanya 1, lanjutkanlah hidupmu sebaik mungkin. Langkahku kupercepat dengan ditutupi payung sahabat skeptikku. Melintasi parkiran penuh motor, seakan-akan rangkuman kalimatmu ikut memenuhi kepalaku. Kuloncati genangan air, namun kutak bisa meloncati masa ini. Mengarahkan kaki ke fakultasku ternyata lebih mudah bila dibandingkan dengan mengarahkan tujuan kita bersama. Skripsi menjadi pacar utama ketika kau tak lagi menjadi yang terutama. Bimbingan dosen kubutuhkan menyusun tugas akhir kuliah, mungkin saja di mereka aku bisa dibimbing menyusun tugas kehidupan yang baru. Mungkin.

Tiba disana antrian menumpuk, seperti setumpuk penyesalan dan pertimbangan. Menunggu memang menjenuhkan, sedikit kesakitan dan penatmu menimpa diriku. Begitu melelahkan memang menunggu itu. Membuka skrip dan teori namun tak kutemukan teori tentang hubungan kita disana. Membaca judul penelitianku, namun tak terbaca bayangan dalam kepalamu. Penat.

Langkah kuayun keluar fakultas, menanti di pojok setengah lingkaran. Awalnya sunyi, harapan yang kunanti itu tiba disini. Sekian waktu memainkan perannya disini, dan sekian wajah mulai nampak berkeliaran. Hujan berhenti, aktifitas mulai kembali. Kulempar pandang kelangit menanti warna-warni melukis awan. Mendung tetap bergelayut disana. Gelap.

Aktifitas meningkat, orang-orang  mulai melakukan niat dan tugasnya. Aku masih disana, di pojok setengah lingkaran. Memangku laptop dan kuketikan kisah dibalik namamu. Senyum ramah terpancar di kiri-kananku, kusunggingkan bibir sekedar ramah tamah. Namun di wajah-wajah mereka terselip senyummu, terselip tawamu, terkenang tangismu. Dan ku hanya ikut tersenyum bukan sekedar ramah-tamah, tapi karena disitulah kutemukan kekuatan kecil yang mengangkat diriku dari fase ini. Jangan bilang aku terjebak dalam cintamu, karena memang sengaja kukungkungkan perasaanku disana. Jangan anggap aku hina karena memang kau tak ternilai.

Visi masing-masing kita dan kenangan bersama kita mengeroyok ku. Sebatang rokok “keras” kutarik asap tembakaunya dalam-dalam. Bersama hembusan asapnya kusisip keluh. Kumatikan laptopku dan namamu tersisip disana menghantarkan langkahku untuk dibimbing.

SALATIGA, 4 APRIL 2012

One thought on “Dikeroyok Masa Lalu dan Masa Depan

  1. Ribuan rintik hujan yang jatuh ditanahmu dan tanahnya kelak sama2 akan bermuara di laut. Tapi laut yang mana? Akan sama kah lautmu dan lautnya? Hanya Tuhan yang tahu🙂
    tetep semangat😉 nice post..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s