Being A Human

Sedikit absurd ketika tulisan ini di berikan judul Being A Human. Karena maksud dari tulisan ini bukan untuk mengajarkan orang bagaimana berjalan seperti manusia yang sebenarnya, makan seperti manusia yang sebenarnya, ataupun berbicara seperti manusia yang sebenarnya.

Tujuan tulisan ini bukan untuk binatang agar supaya menjadi panduan bagi mereka sehingga bisa bertindak seperti manusia. Tentu saja hal itu tidak mungkin, kecuali mereka di ajarkan baca tulis. Dan bila mereka diajarkan baca tulis, akan muncul pertanyaan “siapakah yang akan melakukan tugas mulia itu?”.

Tulisan ini sengaja saya buat cuma sekedar me-refresh pemahaman manusia-manusia masa kini. Tentang bagaimana menjadi manusia seutuhnya, dan bagaimana seharusnya ber-manusia. karena konteks kebenaran pun hanya akan mencapai batas tembok bernama subjektifitas yang terbentuk dari pengalaman masing-masing individu selama hidup. Sama seperti konsep psikologi yang saat ini sedang hangat-hangatnya di dengung-dengungkan “keutuhan raga, jiwa, dan pikiran”.

 Manusia di anggap utuh jika ke-3 hal tersebut mampu di penuhi sebagai syarat utama serta prioritas. Konsep raga berarti kesehatan fisik manusia, konsep jiwa lebih cenderung pada pendekatan horizontal. Namun konsep jiwa ini tidak selalu berkisar tentang Tuhan dan ke-Tuhan-anNya. Sedangkan konsep pikiran adalah bagaimana manusia berpikir dalam pola pikir yang sehat dan tak merugikan orang lain. Yah kira-kira begitu pemahaman saya tentang konsep “Body, Mind, and Spirit”. Entah benar atau salah namun titik batas pengalaman subjektif saya secara pribadi pun telah mencapai titik tersebut.

Mengapa Being A Human? Tulisan ini saya buat bukan karena banyak orang yang tidak sehat secara fisik. Karena jika orang tidak sehat secara fisik tidak akan sembuh hanya dengan membaca tulisan ini. Tulisan ini juga tidak saya buat untuk orang yang tidak sehat secara jiwa. Karena masalah Tuhan, keimanan, dan keyakinan serta tradisi itu menurut saya merupakan hal yang sangat pribadi. Jadi tidak ada gunanya bagi orang-orang yang mungkin sakit secara jiwa untuk membaca tulisan ini.

Tulisan ini sebagai sebuah representasi dari sedikit pemikiran saya tentang orang-orang yang sakit secara pikiran. Dan tulisan ini pun saya buat sebagai bentuk keyakinan saya bahwa tiap-tiap orang pasti punya kemampuan menalar serta memahami dan mungkin  merefleksikan isi tulisan ini ke dalam pengalaman pribadi sehingga tulisan ini mempunyai tujuan dan makna, baik secara objektif menurut saya dan subjektif bagi pembaca tulisan ini.

Saat ini banyak sekali orang yang sakit pikiran. Banyak sekali orang yang terlalu berambisi untuk menjadi lebih baik kondisinya. Memang tidak ada yang salah jika orang-orang selalu berusaha menjadi lebih baik. Dan saya rasa itu merupakan hal yang sangat baik. Namun yang menjadi tidak baik adalah ketika hal itu telalu berlebihan. Karena semua hal yang terlalu itu tidak baik. Terlalu kenyang akan membuat orang sakit perut. Terlalu banyak minum akan membuat orang sering kencing, terlalu cinta membuat orang obsesif, terlalu marah menyebabkan penyakit darah tinggi. Penyakit bawaan yang sekarang di alami penulis.

Kenapa saya beranggapan banyak orang sakit pikiran? Situasi sekarang memang mengarahkan orang untuk menjadi sakit pikiran. Tuntutan yang tidak seharusnya pun berubah menjadi tuntutan yang seharusnya. Tindakan yang tidak seharusnya pun menjadi seharusnya, ketika obsesi merenggut nalar dan melampaui batas. Menjadi lebih baik kondisi secara pribadi merupakan hal mulia dalam pengembangan potensi serta kemampuan individu. Yang menjadi tidak baik adalah berusaha menjadi lebih baik namun menegasikan hal-hal baik di sekitar. Karena menurut saya menumbuhkan hal baik tak harus menghilangkan hal baik lainnya. Ketika menghilangkan hal baik lainnya dimanakah letak perkembangan kita. Bukankah kita cuma berkutat saja di titik nol?

Mungkin secara umum hal yang di ungkapkan di atas belum tentu dapat di pahami. Bahkan secara pribadi pun saya ketika mencoba menelaah hal tersebut pun membutuhkan contoh ekstrim. Karena hal ekstim tersebut saya temukan dalam contoh hubungan keluarga saya. Pemaksaan kehendak demi sebuah prestise di mata masyarakat dan bahkan dalam ruang lingkup keluarga besar merupakan hal yang harus saya lalui. Arogansi, senioritas, dan hutang budi pun menjadi senjata yang paling sering digunakan dalam quo status keluarga. Sampai sekarang hal ini masih terus berlanjut. Dan setiap hari merupakan perlawanan dalam hidup saya. Manipulasi sebagai alat representasi nilai negatif tetap digunakan. Secara kasat mata yang ditangkap adalah moral durhaka. Entah benar atau salah nilai itu menjadi abu-abu bagi saya.

Ironis dalam contoh sederhana seperti itu, karena sebenarnya sebuah hal kecil dapat membunuh nilai-nilai kemanusiaan dan pembebasan.  Dan sering menjadi pertanyaan bagi saya mengenai kepantasan  ketika sebuah hal yang di pandang negatif secara norma menjadi sebuah alat menuju pembebasan pribadi.

Sekarang yang mengganjal apakah salah jika ini terus berlanjut? Apakah saya bisa disebut sebagai manusia seutuhnya?

Entahlah. Mungkin tulisan ini cuma sekedar selingan yang muncul di saat jam goblok.

Karena secara sadar saya mengerti dan paham bahwa isi tulisan ini pun tak jelas arahannya.

SALATIGA, 1-9-2012

One thought on “Being A Human

  1. uuhhfffttt sejujurnya merasa “JLEEBB” banget baca tulisan ini hahahaha…..aku sendiri kadang suka merasa “sakit pikiran” hehhehe. tapi tulisan ini cukup membuka pikiranku agar ga sakit lagi…..tidak ada yang bisa paksakan di dunia ini….semuanya akan berjalan sesuai dengan “Mestinya” mensyukuri saja dan jalani dengan cara terbaik.
    Terima kasih ya penulis,,,,walaupun mungkin kamu menulis ini saat jam goblok….tapi mampu membuat orang tidak goblok lagi…hahahhaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s