Cerita Tentang Rokok, Mediasi, dan Tuhan

Setahun yang lalu saya sempat berdiskusi dengan Satria Anandita di kamar kosnya. Pembicaraan malam itu cukup menghangatkan suasana karena memang menarik walaupun awalnya hanya mengalir saja.

Sayang pembicaraan waktu itu tidak sempat saya rekam. Jadi seingat saya saja tentang alur pembicaraan kami malam itu yang saya tuliskan saja. Bermula dari pembahasan tentang rokok dan akhirnya kemudian mengalir ke pembahasan tentang Tuhan. Memang secara pribadi saya merasa sangat nyaman ketika berbicara tentang Tuhan dengan Satria, mungkin ini di karenakan ada sebagian kecil pemahaman kita tentang Tuhan, sama.

Satria sempat bertanya tentang bagaimana saya bisa merokok lagi. “Stress berat Cak” itulah jawaban yang keluar dari mulut saya saat itu (Seingat saya juga). Dia kemudian melanjutkan dengan pertanyaan kenapa saya lari ke rokok. Akhirnya saya menjawab sekena pikiran saya saja, karena saya sendiri tidak tahu apakah jawaban itu “kena” di hatinya atau tidak.

Akhirnya pembicaraan terus berlanjut. Tak lama dia bertanya lagi apakah saya pernah mencoba melakukan “do nothing” ketika stress. Memang bukan hal yang aneh jika seorang Satria Anandita banyak bertanya karena sekenalnya saya dengan dia, memang dia tipikal orang yang banyak tanya (pendapat pribadi saya) namun saya senang dengan tipe-tipe orang tersebut (karena saya sendiripun demikian).

“Pernah sie Cak. Biasanya tuh klo ku kayak gitu bisa berjam-jam dalam kamar dan hanya tiduran ditemani gelap kamar yang memang sengaja ku matikan cahaya lampunya serta di iringi music instrument.” Enak khan?? Memang lebih enak jika suasananya seperti itu. Tambah dia lagi.

Seingat saya dia bertanya tentang orang yang sering punya masalah dan kemudian berdoa pada Tuhan-nya. Waktu itu jawaban yang saya lontarkan adalah “untuk curhat Cak. biasanya orang punya masalah itu butuh teman Katarsis. Dan Tuhan pun di jadikan ember untuk mendengar semua keluh kesahnya.”

Pemikiran saya memang seperti itu. Kenapa kita harus menangisi hidup jika memang hidup sudah begini. Tuhan itu bukan babu kita yang bisa di suruh mendengarkan semua keluh kesah kita (jika DIA memang ada). Menurut saya Tuhan itu punya banyak tugas lain dan bukan hanya disuruh tuk jadi ember dan menampung semua unek-unek di hati kita. Jadi objek penumpahan kekesalan

Saya dan Satria mungkin mempunyai kesimpulan yang hampir mirip malam itu. Kenapa tugas rokok sebagai anti-depresan harus di ambil Tuhan?? Kenapa Tuhan diwajibkan untuk memediasi semua masalah kita. Karena menurut saya secara pribadi, rokok bisa membuat kita tenang, sehingga jika berada dalam masalah pun kita masih bisa melihat kemungkinan-kemungkinan penyelesaian masalah tersebut.

Yah, pembicaraan malam itu memang cukup membuat saya berpikir banyak setelah kembali dari kost satria.

2 thoughts on “Cerita Tentang Rokok, Mediasi, dan Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s