Mencari Benang Merah Kehidupan

Sekedar mereview sebagian dari sejarah hidup sebagai manusia tentunya, mungkin bisa saja di katakan sebagai curhat,katarsis,menulis diary, menangisi hidup, atau entahlah apa itu namanya. Yang pasti saat ini Cuma sekedar flash back atas apa yang telah ku lakukan pada hidupku dan sejarahnya. Mencoreng kanvas putih, melukisnya atau apalah namanya. Yang pasti sekarang Cuma sekedar mereview apa yang telah ku lakukan dari sejak aku terciptakan oleh seekor sperma yang kemudian membuahi 1 sel telur kemudian aku numpang hidup dalam 1 raga seorang wanita yang kemudian ku namai ibu, bunda, mama, mother, mom atau apalah namanya itu.

Padahal lingkungan ku lah yang mulai menamai dia ibu. Bukan diriku yang mencap dia ibu, dan bukan diriku lah yang mencap asal muasal seekor sperma yang kemudian menjadi diriku sebagai bapak,ayah,aba,father,papi, atau apalah namanya itu. Yang pasti saat ini Cuma mereview apa yang telah di buat oleh diriku sebagai manusia. Padahal Cuma karena faktor adat saja, tradisi atau kebiasaan saja sehingga saya di anggap sebagai manusia,insan,pribadi,individu, atau apalah kita menamai itu.

Bermula dari kecil aku dia ajarkan berbagai macam aturan, cara bicara, cara bertindak atau apalah namanya itu. Jangan begini, jangan begitu,harus begini, harus begitu, mestinya begini bukan begitu. Atau kamu begini dia begitu. Aku begini dia begitu. Yah hampir mirip seperti tembang yang dinyanyikan manusia yang mungkin mempertayakan hakikat hidup nya dan orang lain. Padahal kalau bisa dan di ijinkan diriku berkata bahwa itu cuma sekedar moral tradisional, moral konservatif yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Dijaga dan dilestarikan terus menerus tanpa mempertanyakan apa arti hidup kita masing-masing atau mempertanyakan apa sih tujuan hidup masing-masing pribadi, insan, individu. Apa sih cita-cita hidupnya, bagaimana prosesnya dan bagaimana hasilnya sebagai pola dari pembentukan legenda pribadinya.

Kemudian di ajrkan juga tentang sang kuasa yang juga maha diam, atau biasanya kita sebut Tuhan, Allah, Bapa, Yahweh, Dewa, dewi, atau berbagai nama yang kita sandangkan untuk hal seperti itu. Di ajarkan tentang dosa dan kebaikan moral dari nilai religiusitasnya. Diajarkan tuk bagaimana menjadi dekat dengan sang kuasa atau mungkin sebenarnya cuma membuat merasa dekat saja sehingga kita seakan punya sandaran kehidupan agar mampu menjalankan kehidupan ini. Mungkin karena sebagai manusia merasa sangat terbatas kemampuannya sehingga mencari sandaran yang lebih kuat agar mampu menjalani hidup. Sekedar bayangan imajinasi kreatif saja sehingga bisa di beri label bahwa manusia segambar dan serupa dengan sang penciptanya. Walaupun realitanya memang manusia mungkin mirip dengan ibu atau bapak nya  sebagai penciptanya. Demikian lah hidup. Diajarkan mengucap syukur atas berkat yang kuasa, berterima kasih pada yang kuasa. Tapi kenapa kita tidak mengucap syukur atau berterima kasih kepada manusia. Ada yang bertani sehingga yang lain dapat makan nasi. Ada yang melaut sehingga yang lain dapat makan ikan. Ada yang beternak sehingga yang lain dapat makan daging dan minum susu. Ada yang keringatan berhadapan dengan mesin sehingga manusia yang lain dapat membeli barang dan mendapatkan fantasi kehidupan atau mungkin gambaran kehidupan dalam sebuah kotak besar berwarna-warni berbunyi riuh gemuruh yang dapat disetel sesuka hati manusia sehingga mencapai orgasme fantasia.

Yang selanjutnya hidup berjalan lagi dengan bekal seadanya yang di dapatkan dari hasil penggodokan diri oleh lingkungan dengan segala macam moral tradisionalnya dan moral konservatif serta religiusitasnya. Melakukan modelling akan sikap serta perilaku manusia yang dikenal baik secara sengaja maupun tidak sengaja, terencana maupun tidak terencana, sedarah maupun yang tidak adanya hubungan darah. Bersosialisasi, berinteraksi, dan berkomunikasi. Kemudian menjadi pengelompokan dalam klasifikasi kelompok secara pribadi dan mungkin punya rating sehingga kedekatan pun berdasarkan rating yang dibuat secara subjektif.

Di sekolahkan dengan harapan mendapatkan ilmu-ilmu yang berguna. Berbagai macam ilmu dari yang alami, kimiawi hingga sosial humaniora yang belum tentu bisa di aplikasikan dalam praktek sebagai seorang praktisi manusialis. Demikian lah hidup di patok dalam tingkat pendidikan yang di klasifikasikan dalam kelas-kelas yang berbeda tingkatan-tingkatannya.

Semakin tinggi tingkatan ilmu tersebut akhirnya manusia-manusia pencari lmu ini pun mengerti bahwa tidak semua yang di pelajari seumur hidup itu bisa di pergunakan seumur hidup.

Yang namanya hidup yah cuma sekedar mengalir saja tanpa perlu mengharuskan begini ataupun begitu.

Karena hidup yah sudah begini!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s