Long Distance

“Malam ini kau manis sekali sayang”, sepintas kata itu bermain di otakku, kemudian menyusuri tenggorokanku namun tak keluar dari antara sela-sela gigi ini. Senyum mu pun menghangatkan mata ini dan bahkan turun menyenangkan dada di tengah tiupan dingin angin darat. Seakan tak henti pujian-pujian itu keluar begitu saja dari tabungan kecil hasrat ini.

Kita berjalan beriringan namun tak pernah sedikitpun kulit ini menyentuh kulitmu, tak pernah sekali saja tangan ini menggenggam tangan kecilmu. Hanya mata kita yang saling beradu dan kemudian layu karena malu. Kita memang tak banyak bicara namun ku tahu bahwa hati kita menjadi sangat cerewet seperti arisan ibu-ibu rumah tangga mungkin.

Antrian angkutan kota kita yang berbaris tak teratur di sepanjang jalan ini menginspirasikan ku tuk tidak menunggu waktunya nanti. Terburu-buru?? Itu pikiranmu saja sayang. “Semua indah pada waktunya” bantahmu. Tapi bagiku setiap waktu itu indah jika kita menikmatinya.

Menghindari semua perbantahan ini kuikuti saja maumu menunggu waktunya . Karena bagiku cukup kau tahu saja rasa ini.

4 bulan, 107 hari, 2568 jam, 154080 menit. Itu semua harga yang harus kita bayar tuk mempertemukan hasrat kita. Di sini di ujung pulau ini ku nanti jawabanmu yang berada di ujung pulau itu. Memang raga kita tak bersapa namun rasa kita tetap bersua. Walaupun selangkah di depan kita nanti kita tak akan pernah tahu. Namun ku bersyukur kita pernah menyatukan rasa kita.

One thought on “Long Distance

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s