Ohhhh-Spek

Kemarin Ospek dimulai dikampus ini, agak sedikit berbeda dengan pengalaman ospek di kampusku yang dulu. Pagi kemarin aku telat bangun, harusnya jam 5 sudah bangun dan mandi, tapi malah aku bangun dan tidur lagi dalam posisi duduk dan kemudian mimpi.
Pagi kemarin juga untuk pertama kalinya aku menjadi coordinator resmi sebuah event besar di kampus ini. Jika dulu sudah sering jadi ketua atau cuma sekedar coordinator kegiatan dadakan itu sudah biasa, tapi sekarang sudah menjadi tidak biasa karena sudah terbiasa menjadi orang biasa.
Untuk kegiatan yang dilaksanakan kemarin sebenarnya bukan menjadi kegiatan yang benar-benar “Wah” tapi setidaknya bagi diriku secara pribadi itu menunjukan komitmenku untuk menjalankan cita-cita dalam dunia pendidikan dan pengembangan pribadi. Harus kuakui juga bahwa kegiatan itu tidak benar-benar berjalan sesuai dengan harapanku, beberapa hal yang menjadi bagian vital lupa kuurus. Terima senyum mesem itu sudah biasa, beberapa bulan ini malah aku sering sendiri.
Yah kira-kira begitulah gambaran kegiatan aktifitasku di tempat ini. Sebenarnya bagiku untuk keluar dari tempat ini sangat mudah, aku bisa saja melenggang bebas di luar sana. Tapi entah kenapa ada hal yang kurasa harus kulunasi dulu di tempat ini.
Kalo dibanding kampusku yang lama, tempat ini mungkin lebih kurang nyaman. Tapi justru disitulah hutangku yang harus kulunasi. Mencoba membuat tempat ini menjadi nyaman.
Dengan perlengkapan sedikit, bermental sedikit banyak, dan banyak masalah maka mudah-mudahan hutangku lunas di tempat ini. Mudah-mudahan saja begitu.

Estafet Cerita Mati

Dik, sudah sekian lama kami tak larut dalam malam

Mungkin sudah seabad dalam masa gilang

Walau orang menganggap kami banyak menggumam

Kami tak berhenti bicara keadilan yang telah hilang

 

Jadi Dik, jangan kau tanyakan bagaimana kisah lanjutnya

Karena sekarang kami orang tak punya

Mungkin kisah yang lama terlalu indah

Sampai kami tak bisa lupa dan jadi susah

 

Gumaman malam ini bicara tentang memoir-memoir yang terpatri

Dan satu-satu pendapat kami diungkap jadi “cerita mati”

Bila kami bicara terlalu banyak

Berpura-puralah seolah terhenyak

 

Mungkin tongkat estafet malam ini diberikan pada kalian

Kalian yang mulai saat ini belajar untuk pasang badan

Karena kami tahu dalam prosesnya kami telah gagal

Seperti kuda yang diarahkan ke tukang jagal

 

Cerita kami yang lampau sebenarnya telah lama mati

Maka yang kami mau melihat hasil kalian nanti

 

Dik, selamat berjuang di jalan yang sama yang pernah kami lewati

Jangan lupa lihat peluang, jangan lama mencermati.

Hilang

Aku mencintai kesunyian

ketika tanya tak pernah muncul

dan jawaban tak pernah ada

dengan itu, diriku hilang

karena ada tak pernah ada

serta cerita hanya imaji

tak perlu ia tampak

tak perlu ia ada

Hilang.

Hanya Hari Ini

Bolehkah hari ini kulanggar janjiku yang terakhir?

Bolehkah hari ini aku menulis lagi.

Setelah sekian lama,

Huruf tak bertemu huruf

Dalam barisan kata di atas kertas

 

Setiap kata tak kan perlu lagi mengeja namamu dalam sendu

Karena mereka telah bebas Merdeka.

Bukankah cinta memang membebaskan?

Tidak menjadikanmu budak.

 

Jiwa kita biarkan lepas,

melabrak ke kiri dan kekanan

karena kita tau ia tak akan hilang.

 

Dalam kenang saja kita mati

Bunuh diri dalam imaji

Bukankah kita berhak untuk hidup pula mati sekalipun?

Semoga boleh kulanggar sekali lagi hari ini

Hanya hari ini.

2013

Banyak yang bsa diungkapkan sebenarnya untuk mewakili apa yang dirasakan selama setahun ini, 2013. Terlalu banyak hal yang memang bisa diceritakan. Segala kebahagiaan dan sukacita, kesedihan dan dukacita, kepenuhan dan kekosongan. Semuanya menyatu dalam kenang, 2013. Terima kasih atas segala penyertaan-Mu, terima kasih atas segala pembelajaran dalam hidup yang sudah bisa kudapatkan. Terima kasih atas semua berkat-Mu. Terima kasih atas setiap masa pengujian yang bisa dicicipi dalam hidupku. Setiap proses yang berjalan dalam hidup, setiap masa dan kesempatan untuk bernafas.

Tawa bahagia yang telah lalu, tetesan air mata yang tak jarang berlinang perlahan. Hal-hal yang mengajarkan diriku untuk menjadi dewasa. Sungut mengiringi setiap susah dan duka. Tawa bahagia yang seringkali menutupi syukur.

Ajarku dalam setiap bayangan cita-cita nanti untuk mengucap syukur.

Terima kasih atas semua kerabat dan sahabat, terima kasih atas rusuh dan musuh.